Assalamu’alaikum
warahmatullahi, wabarakatuh..
Hai readers..
Apa kabar nih?? Duhh udah lama banget dehh aku ga nge-post di blog. Maklum aja
ya, waktu luang sih ada.. ya tapi gitu.. males sebenernya nge-post di blog,
padahal mah tulisan banyak loohh ter-save di laptop hehe.. sebelumnya maaf yah
kalo bahasanya kurang formal hehehe
Pada tulisan kali
ini aku mau cerita nih gengs tentang TER.. Nah loh apaan tuh TER?? pada kepo
ga?? Simak yaa.. Singkat cerita aku
ikut rangkaian TER, waktu itu aku dapet jarkoman group entah apa lupa nama groupnya
(saking kebanyakan group), lantas aku baca jarkoman itu yang biasanya aku hanya
membukanya lalu ditutup kembali. And then abis baca, aku langsung daftar deh
sama Kak Dody.. karena aku sangat tertarik dengan singkatan TER-nya itu lohh
yaitu “Training Education For Reformers”.. wahh pas baca rangkaian acaranya
juga udah terbenak nih acara kece badai.. nyesel kalo gaikut !
Oh iya By the
way, pada post aku kali ini, aku mau cerita sedikit nih tentang rangkaian TER
yang kedua, sayangnya pada saat kumpul perdana tanggal 31 Maret 2015 pas hari
Kamis di TERBUK aku berhalangan hadir karena lagi kena demam akibat 2 malem
gatidur gara-gara kuis akun.. oops udah ah skip aja ya ini mah hehe.. padahal
kata sahabatku anak FIS, acara meet up pertamanya kece abis, dapet ice cream
pula.. huhu gakebagian
Walaupun aku
gaikut kumpul perdananya, aku tetep cari-cari tahu tentang hasil kumpul perdana
itu, alhasil dapet deh info kalo ada tugas kelompok persiapin buku untuk
“dibedah” pada acara kedua TER nanti yaitu EduWatch dan Bedah Buku dan yang
terpenting aku tahu aku masuk ke kelompok 4 yang kaka fasilnya Kak Tita sama Kak
Virgin yang kece-kece..
Singkat
cerita.. kelompok aku pilih buku yang berjudul “Stop Menjadi Guru” tapi karena
berbagai alasan akhirnya bukunya berubah jadi “Bela.. Sekolah Tak Perlu Air
Mata”.
Akhirnya tiba
juga nih hari Sabtu, 9 April 2016.. hari dimana rangkaian TER berlanjut dengan
agenda EDUWATCH dan BEDAH BUKU dimana
acaranya diadakan di Gedung Sertifikasi Guru lantai 8. Acara pun dimulai pukul
09.00 dengan MC-nya yang heboh yaitu Kak Dody dan Kak Fatra dan Kak Miqdad
sebagai pembaca tilawah Qur’an.
And then aku
penasaran banget nih film apa yaa yang bakal di tonton pada agenda EDUWATCH ini
dan satu hal yang aku tahu filmnya pasti berkaitan dengan PENDIDIKAN..
jeng-jeng ternyata filmya itu berjudul “Freedom Writers” nih gengs.. duh kepo
juga yaa apa isi dari film ini..
Yang aku
tangkap dari film ini (Freedom Writers) bahwa film ini merupakan film yang
menceritakan tentang kehidupan seorang guru di Long Beach, California, Erin
Gruwell (diperankan oleh Hillary Swank). Erin berprofesi sebagai guru bahasa
Inggris ketika isu rasisme di Amerika begitu hegemoni. Ia memasuki dunia
pendidikan yang rasis setelah dua tahun keributan L.A menjadi pembicaraan
hangat di masyarakat. Dengan penuh harapan, Erin mengajar bahasa Inggris di
kelas 203, di mana terdapat beragam gank ras yang selalu mengelompok, seperti
ras kamboja, kulit hitam, Hispanic, dan seorang kulit putih. Pada awal
kedatangan Erin, para murid sama sekali tidak tertarik dengan kehadirannya.
Mereka sangat sentimen terhadap orang berkulit putih. Mereka menganggap bahwa
Erin tidak mengerti apapun tentang kehidupan mereka yang keras, kehidupan yang
selalu berada di bawah bayang-bayang perang dan kekerasan. Bagi mereka,
kehidupan adalah bagaimana caranya mereka ”selamat” dari kekerasan, hingga
penembakan yang mengatasnamakan “ras”.
Agar diterima
oleh anak-anak didiknya, Erin mencari cara untuk melakukan pendekatan dan
metode pengajaran yang tepat. Namun, sejak Erin disibukkan dengan pendekatan
terhadap anak-anak didiknya dan bekerja paruh waktu, timbul masalah baru, ia
diceraikan oleh suaminya. Hingga pada akhirnya, ayahnya yang semula tidak
mendukung, berbalik mendukung pekerjaan Erin. Erin paham dengan kondisi
anak-anak didiknya yang selalu berkelompok dengan ras mereka masing-masing.
Akhirnya, ia menemukan cara untuk “menjangkau” kehidupan mereka dengan memberikan
mereka buku, dan meminta mereka mengisinya dengan jurnal harian. Bahkan, ketika
sekolah mendiskriminasikan fasilitas buku, Erin memberikan buku baru tentang
kehidupan gank yang lekat dengan keseharian mereka. Sejak membaca jurnal harian
yang bercerita tentang kehidupan mereka yang keras, Erin semakin bersemangat
untuk mengubah kehidupan anak-anak didiknya, serta menghapus batas tak terlihat
yang secara kultur memisahkan mereka dengan cara-cara yang mengagumkan.
Dalam film ini
juga kita bisa melihat bagaimana usaha Erin mendatangkan Mrs…..seorang wanita
penolong Anne Frank, anak Yahudi yang hidup pada zaman Hitler dan
holocaust-nya. Ia mendatangkan Mrs….untuk berbagi cerita kepada anak-anak
didiknya tentang sebuah “bencana” yang terjadi karena rasisme, serta
usaha-usaha Erin lainnya yang mendapat tantangan dari pihak-pihak sekolah.
Akhirnya,
keteguhan Erin dalam mendidik mereka berbuah hasil. Anak-anak tersebut, yang
semula benci satu sama lain Karena
perbedaan ras, akhirnya menjadi berteman dan mendobrak sekat-sekat ras di
antara mereka. Bahkan, ketika ada kasus penembakan yang menimpa seorang kawan
anak didiknya, ia mengajarkan tentang arti kejujuran.
Setelah
pemutaran film “Freedom Writers” selesai para peserta diberi kesempatan untuk
menyampaikan makna yang dapat diambil setelah menonton film tersebut. Setelah
itu kami diberi waktu untuk istirahat
sampai pukul 12.30.
Setelah
istirahat acara dilanjutkan dengan bedah buku. Acara bedah buku kali ini
dipandu oleh Kak Reni. Setiap peserta duduk dan berkumpul dengn kelompoknya
masing-masing.
Berikut daftar
kelompok dan buku yang akan dibedah:
Kelompok 1 :
(tidak ada yang hadir)
Kelompok 2 :
Dua Belas Pasang Mata
Kelompok 3 :
Sekolahnya Manusia
Kelompok 4 :
Bela Sekolah Tak Perlu Air Mata
Kelompok 5 :
Lupa Endonesa
Kelompok 6 :
Rahasia Ayah Edy Memetakan Potenai Unggul Anak
Kelompok 7 :
Ranah 3 Warna
Kelompok 8 :
Siswa Aktif Pangkal Guru Kreatif
Kelompok 9 :
Sang Pemimpi
Kelompok 10 :
Paradigma Pendidikan Abad 21
Kelompok 11 :
Toto Chan
Kelompok 12 :
Rich Dad and Poor Dad
Setiap
kelompok masing-masing mempresentasikan mengenai buku yang telah mereka
persiapkan dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.
Nah aku mau
cerita sedikit nih tentang buku kelompokku.
Buku ini
tepatnya sih novel ini mengisahkan tentang seorang anak yang bernama Bella yang
mengalami Disleksia. Disleksia adalah hambatan di otak yang
menyebabkan seseorang sulit untuk berbicara dan membaca, penyebab utamanya
masalah nutrisi pada saat ibunya hamil. Lembaran demi lembaran dalam novel ini
adalah perjuangan orang tua Bella yang bernama Alwan dan Salma yang berusaha
dengan kesabaran dan ketekunan mengajarkan Bella berbicara dan membaca.
Diawali dari
pendarahan hebat Salma saat akan melahirkan, perjuangan mencari tempat
persalinan dan kondisi koma pasca melahirkan karena rahimnya mengalami adenomiosis,yang memungkinkan ia
sulit hamil lagi sampai pada keputusan harus masuk ruang ICU. Cobaan masih
belum berakhir setelah proses persalinan berakhir sampai usia 2 tahun Bella
masih belum dapat bicara. Ya, hanya kata “Ba-ba” dan “Ma-ma” yang dapat
diucapkan Bella. Alwan selalu menghibur diri dengan senantiasa bergumam,
“minimal anak-ku tidak bisu”. Secara dramatis novel ini mendeskripsikan
perjalanan Alwan dan Salma mencari sekolah TK untuk Bella. Di sekolah pertama
yang katanya unggulan, Bella di tolak saat tes masuk, dianggap bisu dan tidak
mampu menjawab gambar-gambar yang mereka anggap mudah. Ini juga yang membuat
kesedihan yang luar biasa pada diri orang tuanya terutama Salma sebagai ibunya.
Kesabaran
dan Ketekunan adalah kata kunci yang pas untuk menggambarkan perjuangan orang
tua Bella mengantarkan Bella menemukan sekolahnya dan membuka kunci yang mudah
untuk menjadi jalan cara belajarnya. Ketakutan orang tua kebanyak anaknya belum
mampu membaca walaupun si anak masih sekolah di TK, alasan mereka tuntutan
masuk SD biasanya si anak sudah harus mampu membaca apalagi disertai tes masuk
dengan calistung. Di halaman 40, saat Bella sudah menemukan TK nya Bu Hikmat
Kepala TK dengan sangat baik menganalogikan perkembangan anak saat di TK,
kepada walimurid dia menjelaskan..”Ayo, ini gambar apa? Tanyanya kepada ibu-ibu
walimurid pengantar. “Rumah”, “ada berapa lantai?” “Dua, jawab mereka serempak.
“Betul. Kemampuan anak kita dalam membaca, sebenarnya seperti rumah yang punya
lantai satu dan lantai dua. Anak kita harus melewati lantai satu dulu, setelah
itu naik ke lantai dua. Lantai satu adalah kesiapan emosi anak kita untuk
membaca. Ingat, kesiapan emosi, bukan ngajarin membaca. Setelah emosinya siap
untuk membaca, barulah naik ke lantai dua, yaitu mengajari anak cara membaca yang
benar.” Kesiapan emosi membaca adalah memunculkan setiap hari kebutuhan dan
keinginan anak untuk membaca dicontohkan dengan membacakan dongeng sebelum
tidur, mengajaknya ke perpustakaan dan ke toko-toko buku.
Di halaman
65, Pak Alwan sepulang kerja merebahkan badannya di sofa tengah, namun niatnya
merebahkan diurungkan karena melihat deretan gambar Bella di dinding, gambar
itu berkait satu sama lain, seolah-olah Bella sedang bercerita. Kepandaian
Bella menggambar memang menurun dari kemampuan Alwan. Sepuluh menit Alwan
mengamati gambar itu, sambil berputar dan, Wow, dahsyatnya Bella! Dia anak yang
berbakat, gambarnya penuh arti, tidak semua anak seusianya mampu
mendeskripsikan perasaan hatinya lewat gambar. Spontan ia memberitahukan
istrinya bagaimana cara membuka jalan bagi belajarnya Bella. Ia ambil botol air
minum, air mineral gelas dan botol saus sambal. Ia letakkan dia atas meja.
“Coba perhatikan tiga botol ini, jawab pertanyaanku, ya. Bagaimana cara membuka
tutup botol ini? “Diputar”, jawab istrinya. Kalau gelas plastik ini? “Ditusuk”.
“Botol saus ini?”. “Dicungkit, dong”. “Nah, diputar, ditusuk, dicungkit, itulah
gaya belajar”. Cara membuka “tutup otak” Bella adalah dengan menggambar.
Sampai
akhirnya, Bella menghadapi ujian matematika dan mendapat nilai paling rendah,
30. Bella hanya menjawab soal cerita -itu pun dibacakan oleh Sarah, teman
sebangkunya yang tahu kalau Bella tak bisa membaca- sementara untuk soal bukan
soal cerita, Bella tak menjawab karena katanya soal itu tidak punya
permasalahan yang harus diselesaikan.
Guru
matematikanya marah besar, guru matematika itu mengejek Bella bodoh bahkan
menulis kata BODOH itu di kertas ujian Bella. Bella menangis dan malu hingga
tak mau masuk sekolah. Kini, Bella berada di masa trauma dengan matematika yang
memicu terjadinya diskalkulia,
hambatan yang akan menyebabkan Bella susah mengasah kemampuan menghitung.
Tokoh lain
dan tidak kalah menariknya di Novel pendidikan ini adalah Pak Halim dan Bu Nur.
Pak Halim adalah guru/wali kelas 1 yang pandai dan memiliki integritas dengan
konsep-konsep pendidikan yang humanis. Sementara Bu Nur adalah guru bahasa
indonesia yang sudah cukup senior. Disaat rapat kenaikan kelas di SD Bunga
Bangsa, ada siswa namanya Mahdi murid kelas 1, kepala sekolah menyatakan bahwa
anak ini tidak layak naik kelas, bahasa indonesia nya saja dapat nilai 4.
Sementara pak Halim mencoba membelanya, sambil meyakinkan pak Sabar selaku
kepala sekolah bahwa ia hanya ingin melakukan tes bahasa indonesia kembali dan
akan memperlihatkan hasilnya kepada pak Sabar.
Pak Halim
menemui Bu Nur dan Bu Nur memperlihatkan kertas-kertas hasil ujian Mahdi yang
memang semuanya tidak Tuntas. Pak Hlim memperhatikan semua hasil tes Mahdi dan
ketika pertanyaan diminta jawaban satu paragraf terlihat Mahdi hanya menuliskan
satu kata. Kemudian, Pak Halim bertanya pada Bu Nur, “Bu Nur senangkan apabila
Mahdi memahami soal dan mampu menjawab pertanyaan di tes ini? Bu nur
mengangguk. Bagaimana kalau kita minta Mahdi menjawab dengan cara lain?. Mereka
memanggil Mahdi dan meminta menjelaska tentang ciri-ciri Ibunya. Spontan Mahdi
berceloteh bak seorang pendongeng ; “ Mamaku itu baik, kalo pagi hari, siang
hari kadang marah-marah. Kalau malam hari jadi baik lagi. Aku paling suka telur
mata sapi buatan mamaku. Enak gitu, kalau kakakku yang buat, asin gitu. Aku
seneng akalau diajak mama mandiin adikku yang bayi. Lucu gitu, kalau diberi
dot, adikku tidak nangis. Terus akalau malam hari, mamaku suka cerita, seru
ceritanya…” Hampir lima menit Mahdi terus berceloteh, matanya kadang membulat
seolah memastikan bahwa ceritanya benar adanya. Bu nur menciup kening muridnya,
dan berkata maafkan ibu ya nak, hampir saja ibu salah menilaimu, ternyata kamu
anak yang berbakat. Cerita ini menggambarkan kembali bahwa gaya belajar bisa
lewat mana saja, tidak hanya dari satu perspektif.
Di akhir
cerita Bella pindah sekolah dan menemukan sekolah barunya yang menarapkan
sekolah inklusi, yaitu di SD Bunga Bangsa. Sekolah seperti ini bukan seperti
mesin pencetak batu bata, yang menjadikan semua siswanya punya bentuk dan warna
yang sama. Padahal, mereka berbeda satu sama lain. Kondisi seperti ini terjadi
di banyak sekolah.” Hal.80 Di akhir sekolah saat menghadapi ujian nasional ini
yang dikhawatirkan Alwan dan Salma, dapat luluskan Bellah, dan diluar dugaan Bella
lulus bahkan nilai matematikanya tertinggi yaitu 85. Saat hal ini ditanyakan
orangtua dan kepsek bagaimana Bella mendapatkan nilai setinggi itu, dengan
jujur Bella mengatakan sebagain berdo’a sambil mengitung kancing.
Pesan moral
yang dapat diambil dari Buku Cerpen edukasi ini adalah bahwa Sekolah unggul itu
adalah sekolah yang menerima anak pandai, anak bodoh, anak baik, anak nakal,
ataupun anak yang punya hambatan. Lalu, sekolah itu mampu menjadi agent of change. Mengubah
yang negatif menjadi positif dan mempertahankan yang positif untuk terus baik
selamanya.” hal.117
Alhamdulillah
acara berjalan dengan lancar, and then Kak Reni menutup acara dengan kalimat
yang menarik dengan yaitu “Pendidikan
adalah Urudan Kita Semua”. Kece badai ka kalimatnya J
Tidak terasa
kami sudah sampai di penghujung acara. Acarapun ditutup dengan do’a oleh Kak Fatra
dan dilanjutkan dengan foto bersama seluruh peserta dan panitia TER 2016 :)
See you again
all at the next event series..
Wassalamualaikum warahmatullahi, wabarakatuh
#HidupMahasiswa
#HidupPendidikanIndonesia
#RangkaianTER2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar