Sabtu, 23 April 2016

Training For Education Reformers

Assalamu’alaikum warahmatullahi, wabarakatuh..
Hai readers.. Apa kabar nih?? Duhh udah lama banget dehh aku ga nge-post di blog. Maklum aja ya, waktu luang sih ada.. ya tapi gitu.. males sebenernya nge-post di blog, padahal mah tulisan banyak loohh ter-save di laptop hehe.. sebelumnya maaf yah kalo bahasanya kurang formal hehehe
Pada tulisan kali ini aku mau cerita nih gengs tentang TER.. Nah loh apaan tuh TER?? pada kepo ga?? Simak yaa..   Singkat cerita aku ikut rangkaian TER, waktu itu aku dapet jarkoman group entah apa lupa nama groupnya (saking kebanyakan group), lantas aku baca jarkoman itu yang biasanya aku hanya membukanya lalu ditutup kembali. And then abis baca, aku langsung daftar deh sama Kak Dody.. karena aku sangat tertarik dengan singkatan TER-nya itu lohh yaitu “Training Education For Reformers”.. wahh pas baca rangkaian acaranya juga udah terbenak nih acara kece badai.. nyesel kalo gaikut !
Oh iya By the way, pada post aku kali ini, aku mau cerita sedikit nih tentang rangkaian TER yang kedua, sayangnya pada saat kumpul perdana tanggal 31 Maret 2015 pas hari Kamis di TERBUK aku berhalangan hadir karena lagi kena demam akibat 2 malem gatidur gara-gara kuis akun.. oops udah ah skip aja ya ini mah hehe.. padahal kata sahabatku anak FIS, acara meet up pertamanya kece abis, dapet ice cream pula.. huhu gakebagian 
Walaupun aku gaikut kumpul perdananya, aku tetep cari-cari tahu tentang hasil kumpul perdana itu, alhasil dapet deh info kalo ada tugas kelompok persiapin buku untuk “dibedah” pada acara kedua TER nanti yaitu EduWatch dan Bedah Buku dan yang terpenting aku tahu aku masuk ke kelompok 4 yang kaka fasilnya Kak Tita sama Kak Virgin yang kece-kece..
Singkat cerita.. kelompok aku pilih buku yang berjudul “Stop Menjadi Guru” tapi karena berbagai alasan akhirnya bukunya berubah jadi “Bela.. Sekolah Tak Perlu Air Mata”.
Akhirnya tiba juga nih hari Sabtu, 9 April 2016.. hari dimana rangkaian TER berlanjut dengan agenda  EDUWATCH dan BEDAH BUKU dimana acaranya diadakan di Gedung Sertifikasi Guru lantai 8. Acara pun dimulai pukul 09.00 dengan MC-nya yang heboh yaitu Kak Dody dan Kak Fatra dan Kak Miqdad sebagai pembaca tilawah Qur’an.
And then aku penasaran banget nih film apa yaa yang bakal di tonton pada agenda EDUWATCH ini dan satu hal yang aku tahu filmnya pasti berkaitan dengan PENDIDIKAN.. jeng-jeng ternyata filmya itu berjudul “Freedom Writers” nih gengs.. duh kepo juga yaa apa isi dari film ini..
Yang aku tangkap dari film ini (Freedom Writers) bahwa film ini merupakan film yang menceritakan tentang kehidupan seorang guru di Long Beach, California, Erin Gruwell (diperankan oleh Hillary Swank). Erin berprofesi sebagai guru bahasa Inggris ketika isu rasisme di Amerika begitu hegemoni. Ia memasuki dunia pendidikan yang rasis setelah dua tahun keributan L.A menjadi pembicaraan hangat di masyarakat. Dengan penuh harapan, Erin mengajar bahasa Inggris di kelas 203, di mana terdapat beragam gank ras yang selalu mengelompok, seperti ras kamboja, kulit hitam, Hispanic, dan seorang kulit putih. Pada awal kedatangan Erin, para murid sama sekali tidak tertarik dengan kehadirannya. Mereka sangat sentimen terhadap orang berkulit putih. Mereka menganggap bahwa Erin tidak mengerti apapun tentang kehidupan mereka yang keras, kehidupan yang selalu berada di bawah bayang-bayang perang dan kekerasan. Bagi mereka, kehidupan adalah bagaimana caranya mereka ”selamat” dari kekerasan, hingga penembakan yang mengatasnamakan “ras”.
Agar diterima oleh anak-anak didiknya, Erin mencari cara untuk melakukan pendekatan dan metode pengajaran yang tepat. Namun, sejak Erin disibukkan dengan pendekatan terhadap anak-anak didiknya dan bekerja paruh waktu, timbul masalah baru, ia diceraikan oleh suaminya. Hingga pada akhirnya, ayahnya yang semula tidak mendukung, berbalik mendukung pekerjaan Erin. Erin paham dengan kondisi anak-anak didiknya yang selalu berkelompok dengan ras mereka masing-masing. Akhirnya, ia menemukan cara untuk “menjangkau” kehidupan mereka dengan memberikan mereka buku, dan meminta mereka mengisinya dengan jurnal harian. Bahkan, ketika sekolah mendiskriminasikan fasilitas buku, Erin memberikan buku baru tentang kehidupan gank yang lekat dengan keseharian mereka. Sejak membaca jurnal harian yang bercerita tentang kehidupan mereka yang keras, Erin semakin bersemangat untuk mengubah kehidupan anak-anak didiknya, serta menghapus batas tak terlihat yang secara kultur memisahkan mereka dengan cara-cara yang mengagumkan.
Dalam film ini juga kita bisa melihat bagaimana usaha Erin mendatangkan Mrs…..seorang wanita penolong Anne Frank, anak Yahudi yang hidup pada zaman Hitler dan holocaust-nya. Ia mendatangkan Mrs….untuk berbagi cerita kepada anak-anak didiknya tentang sebuah “bencana” yang terjadi karena rasisme, serta usaha-usaha Erin lainnya yang mendapat tantangan dari pihak-pihak sekolah.
Akhirnya, keteguhan Erin dalam mendidik mereka berbuah hasil. Anak-anak tersebut, yang semula  benci satu sama lain Karena perbedaan ras, akhirnya menjadi berteman dan mendobrak sekat-sekat ras di antara mereka. Bahkan, ketika ada kasus penembakan yang menimpa seorang kawan anak didiknya, ia mengajarkan tentang arti kejujuran.
Setelah pemutaran film “Freedom Writers” selesai para peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan makna yang dapat diambil setelah menonton film tersebut. Setelah itu  kami diberi waktu untuk istirahat sampai pukul 12.30.
Setelah istirahat acara dilanjutkan dengan bedah buku. Acara bedah buku kali ini dipandu oleh Kak Reni. Setiap peserta duduk dan berkumpul dengn kelompoknya masing-masing.
Berikut daftar kelompok dan buku yang akan dibedah:
Kelompok 1 : (tidak ada yang hadir)
Kelompok 2 : Dua Belas Pasang Mata
Kelompok 3 : Sekolahnya Manusia
Kelompok 4 : Bela Sekolah Tak Perlu Air Mata
Kelompok 5 : Lupa Endonesa
Kelompok 6 : Rahasia Ayah Edy Memetakan Potenai Unggul Anak
Kelompok 7 : Ranah 3 Warna
Kelompok 8 : Siswa Aktif Pangkal Guru Kreatif
Kelompok 9 : Sang Pemimpi
Kelompok 10 : Paradigma Pendidikan Abad 21
Kelompok 11 : Toto Chan
Kelompok 12 : Rich Dad and Poor Dad
Setiap kelompok masing-masing mempresentasikan mengenai buku yang telah mereka persiapkan dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.
Nah aku mau cerita sedikit nih tentang buku kelompokku.
Buku ini tepatnya sih novel ini mengisahkan tentang seorang anak yang bernama Bella yang mengalami Disleksia. Disleksia adalah hambatan di otak yang menyebabkan seseorang sulit untuk berbicara dan membaca, penyebab utamanya masalah nutrisi pada saat ibunya hamil. Lembaran demi lembaran dalam novel ini adalah perjuangan orang tua Bella yang bernama Alwan dan Salma yang berusaha dengan kesabaran dan ketekunan mengajarkan Bella berbicara dan membaca.
Diawali dari pendarahan hebat Salma saat akan melahirkan, perjuangan mencari tempat persalinan dan kondisi koma pasca melahirkan karena rahimnya mengalami adenomiosis,yang memungkinkan ia sulit hamil lagi sampai pada keputusan harus masuk ruang ICU. Cobaan masih belum berakhir setelah proses persalinan berakhir sampai usia 2 tahun Bella masih belum dapat bicara. Ya, hanya kata “Ba-ba” dan “Ma-ma” yang dapat diucapkan Bella. Alwan selalu menghibur diri dengan senantiasa bergumam, “minimal anak-ku tidak bisu”. Secara dramatis novel ini mendeskripsikan perjalanan Alwan dan Salma mencari sekolah TK untuk Bella. Di sekolah pertama yang katanya unggulan, Bella di tolak saat tes masuk, dianggap bisu dan tidak mampu menjawab gambar-gambar yang mereka anggap mudah. Ini juga yang membuat kesedihan yang luar biasa pada diri orang tuanya terutama Salma sebagai ibunya.
Kesabaran dan Ketekunan adalah kata kunci yang pas untuk menggambarkan perjuangan orang tua Bella mengantarkan Bella menemukan sekolahnya dan membuka kunci yang mudah untuk menjadi jalan cara belajarnya. Ketakutan orang tua kebanyak anaknya belum mampu membaca walaupun si anak masih sekolah di TK, alasan mereka tuntutan masuk SD biasanya si anak sudah harus mampu membaca apalagi disertai tes masuk dengan calistung. Di halaman 40, saat Bella sudah menemukan TK nya Bu Hikmat Kepala TK dengan sangat baik menganalogikan perkembangan anak saat di TK, kepada walimurid dia menjelaskan..”Ayo, ini gambar apa? Tanyanya kepada ibu-ibu walimurid pengantar. “Rumah”, “ada berapa lantai?” “Dua, jawab mereka serempak. “Betul. Kemampuan anak kita dalam membaca, sebenarnya seperti rumah yang punya lantai satu dan lantai dua. Anak kita harus melewati lantai satu dulu, setelah itu naik ke lantai dua. Lantai satu adalah kesiapan emosi anak kita untuk membaca. Ingat, kesiapan emosi, bukan ngajarin membaca. Setelah emosinya siap untuk membaca, barulah naik ke lantai dua, yaitu mengajari anak cara membaca yang benar.” Kesiapan emosi membaca adalah memunculkan setiap hari kebutuhan dan keinginan anak untuk membaca dicontohkan dengan membacakan dongeng sebelum tidur, mengajaknya ke perpustakaan dan ke toko-toko buku.
Di halaman 65, Pak Alwan sepulang kerja merebahkan badannya di sofa tengah, namun niatnya merebahkan diurungkan karena melihat deretan gambar Bella di dinding, gambar itu berkait satu sama lain, seolah-olah Bella sedang bercerita. Kepandaian Bella menggambar memang menurun dari kemampuan Alwan. Sepuluh menit Alwan mengamati gambar itu, sambil berputar dan, Wow, dahsyatnya Bella! Dia anak yang berbakat, gambarnya penuh arti, tidak semua anak seusianya mampu mendeskripsikan perasaan hatinya lewat gambar. Spontan ia memberitahukan istrinya bagaimana cara membuka jalan bagi belajarnya Bella. Ia ambil botol air minum, air mineral gelas dan botol saus sambal. Ia letakkan dia atas meja. “Coba perhatikan tiga botol ini, jawab pertanyaanku, ya. Bagaimana cara membuka tutup botol ini? “Diputar”, jawab istrinya. Kalau gelas plastik ini? “Ditusuk”. “Botol saus ini?”. “Dicungkit, dong”. “Nah, diputar, ditusuk, dicungkit, itulah gaya belajar”. Cara membuka “tutup otak” Bella adalah dengan menggambar.
Sampai akhirnya, Bella menghadapi ujian matematika dan mendapat nilai paling rendah, 30. Bella hanya menjawab soal cerita -itu pun dibacakan oleh Sarah, teman sebangkunya yang tahu kalau Bella tak bisa membaca- sementara untuk soal bukan soal cerita, Bella tak menjawab karena katanya soal itu tidak punya permasalahan yang harus diselesaikan.
Guru matematikanya marah besar, guru matematika itu mengejek Bella bodoh bahkan menulis kata BODOH itu di kertas ujian Bella. Bella menangis dan malu hingga tak mau masuk sekolah. Kini, Bella berada di masa trauma dengan matematika yang memicu terjadinya diskalkulia, hambatan yang akan menyebabkan Bella susah mengasah kemampuan menghitung.
Tokoh lain dan tidak kalah menariknya di Novel pendidikan ini adalah Pak Halim dan Bu Nur. Pak Halim adalah guru/wali kelas 1 yang pandai dan memiliki integritas dengan konsep-konsep pendidikan yang humanis. Sementara Bu Nur adalah guru bahasa indonesia yang sudah cukup senior. Disaat rapat kenaikan kelas di SD Bunga Bangsa, ada siswa namanya Mahdi murid kelas 1, kepala sekolah menyatakan bahwa anak ini tidak layak naik kelas, bahasa indonesia nya saja dapat nilai 4. Sementara pak Halim mencoba membelanya, sambil meyakinkan pak Sabar selaku kepala sekolah bahwa ia hanya ingin melakukan tes bahasa indonesia kembali dan akan memperlihatkan hasilnya kepada pak Sabar.
Pak Halim menemui Bu Nur dan Bu Nur memperlihatkan kertas-kertas hasil ujian Mahdi yang memang semuanya tidak Tuntas. Pak Hlim memperhatikan semua hasil tes Mahdi dan ketika pertanyaan diminta jawaban satu paragraf terlihat Mahdi hanya menuliskan satu kata. Kemudian, Pak Halim bertanya pada Bu Nur, “Bu Nur senangkan apabila Mahdi memahami soal dan mampu menjawab pertanyaan di tes ini? Bu nur mengangguk. Bagaimana kalau kita minta Mahdi menjawab dengan cara lain?. Mereka memanggil Mahdi dan meminta menjelaska tentang ciri-ciri Ibunya. Spontan Mahdi berceloteh bak seorang pendongeng ; “ Mamaku itu baik, kalo pagi hari, siang hari kadang marah-marah. Kalau malam hari jadi baik lagi. Aku paling suka telur mata sapi buatan mamaku. Enak gitu, kalau kakakku yang buat, asin gitu. Aku seneng akalau diajak mama mandiin adikku yang bayi. Lucu gitu, kalau diberi dot, adikku tidak nangis. Terus akalau malam hari, mamaku suka cerita, seru ceritanya…” Hampir lima menit Mahdi terus berceloteh, matanya kadang membulat seolah memastikan bahwa ceritanya benar adanya. Bu nur menciup kening muridnya, dan berkata maafkan ibu ya nak, hampir saja ibu salah menilaimu, ternyata kamu anak yang berbakat. Cerita ini menggambarkan kembali bahwa gaya belajar bisa lewat mana saja, tidak hanya dari satu perspektif.
Di akhir cerita Bella pindah sekolah dan menemukan sekolah barunya yang menarapkan sekolah inklusi, yaitu di SD Bunga Bangsa. Sekolah seperti ini bukan seperti mesin pencetak batu bata, yang menjadikan semua siswanya punya bentuk dan warna yang sama. Padahal, mereka berbeda satu sama lain. Kondisi seperti ini terjadi di banyak sekolah.” Hal.80 Di akhir sekolah saat menghadapi ujian nasional ini yang dikhawatirkan Alwan dan Salma, dapat luluskan Bellah, dan diluar dugaan Bella lulus bahkan nilai matematikanya tertinggi yaitu 85. Saat hal ini ditanyakan orangtua dan kepsek bagaimana Bella mendapatkan nilai setinggi itu, dengan jujur Bella mengatakan sebagain berdo’a sambil mengitung kancing.
Pesan moral yang dapat diambil dari Buku Cerpen edukasi ini adalah bahwa Sekolah unggul itu adalah sekolah yang menerima anak pandai, anak bodoh, anak baik, anak nakal, ataupun anak yang punya hambatan. Lalu, sekolah itu mampu menjadi agent of change. Mengubah yang negatif menjadi positif dan mempertahankan yang positif untuk terus baik selamanya.” hal.117
Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar, and then Kak Reni menutup acara dengan kalimat yang menarik dengan yaitu “Pendidikan adalah Urudan Kita Semua”. Kece badai ka kalimatnya J
Tidak terasa kami sudah sampai di penghujung acara. Acarapun ditutup dengan do’a oleh Kak Fatra dan dilanjutkan dengan foto bersama seluruh peserta dan panitia TER 2016 :)
See you again all at the next event series..
Wassalamualaikum warahmatullahi, wabarakatuh
#HidupMahasiswa
#HidupPendidikanIndonesia
#RangkaianTER2016

 


Rabu, 19 Agustus 2015

SEBENARNYA APAKAH YANG SALAH?

Sebelum kita mengidentifikasi lebih dalam tentang permasalahan perekonomian di kawasan Indonesia bagian Timur, ada baikmya kita membuka kembali pasal-pasal dalam UUD 1945 yang berkaitan dengan perekonomian khususnya yang tertera dalam Pasal 33 (1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan. (2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. ; Pasal 34 (2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu srsuai dengan martabat kemanusiaan. (3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. 
Namun pada kenyataannya apakah amanat UUD 1945 tersebut telah tercapai? Dan apabila kita mencermati kembali salah satu tujuan nasional Indonesia yaitu umtuk memajukan kesejahteraan umum apakah hal itu telah terwujud? Ya, mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia Timur akan berteriak “Dimana keadilan untuk kita? Kita sudah merdeka 70 tahun lamanya tetapi kesejahteraan tak pernah menghampiri kita.”
Bagaimana tidak, kendati pun Pancasila dan UUD 1945 telah menekankan pentingnya konsep kebersamaan termasuk dalam pembangunan ekonomi, tetapi dalam kenyataannya arah pembangunan ekonomi cenderung liberal dan kapitalis. Lihat saja contoh PT Prevort di Irian Jaya yang mengeruk kekayaan alam kita diamana yang berkuasa adalah orang yang memiliki modal sedangkan masyarakat kita hanya sebagai tenaga kerja yang upahnya sangat rendah.
 Ya, masalah pembangunan ekonomi-lah  yang merupakan akar dari permasalah ekonomi yang lain. Selain arah kebijakan pembangunan ekonomi yang salah, masalah pembangunan infrastruktur pun turut mewarnai carut matrutnya perekonomin Indonesia Timur. Bagaimana tidak, infrastruktur yang buruk dapat menghambat masyarakat untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi yang berpotensi memakmurkan. Belum memadainya infrastruktur ini disebabkan karena masalah keterbatasan pembiayaan pemmbangunan. Pertanyaannya adalah kemana triliunan uang APBN yang di alokasikan untuk pembangunan negeri ini?
Seperti yang kita ketahui, kawasan Indonesia Timur memiliki posisi geografis yang strategis dalam perkembangan ekonomi global. Kawasan Papua salah satunya yang  menjadi bagian penting dari poros Pasifik karena merupakan pintu Indonesia ke wilayah Pasifik. Karena itulah promosi investasi di wilayah Indonesia timur layak mendapatkan perhatian. 
Namun, terlepas dari buruknya infrastruktur di kawasan Indonesia   Timur itu ternyata disana memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, data itu dirilis pada saat triwulan 1 tahun 2015 dengan data pertumbuhan ekonomi tertinggi di miliki wilayah Bali-Nusa Tenggara sebanyak 9% lalu diikuti oleh Sulawesi sebesar 7% meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat pada kenyataannya. Tentu saja ini memberikan harapan bagi para investor untuk berinvestasi di wilayah Indonesia Timur. Namun di sisi lain, hal ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang baik dan tingggi tidak akan menjamin pembangunan ekonomi yang baik pula
Makin melebarnya perbedaan kesejahteraan antara wilayah Barat dan Timur Indonesia, semakin mnelebarnya ketimpangan antara kelompok kaya dan miskin, semakin terpuruknya masyarakat di daerah perbatasan dan banyaknya warga miiskin di wilayah Indonesia Timur adalah bukti ada sesuatu yang salah didalam konsep pembangunan kita, khususnya kawasan Timur.  Padahal Tuhan telah mengkaruniakan kepada kita akal serta keindahan dengan segala kemudahan dan segudang kekayaan alam yang seharusnya bias kita kembangkan untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran.
Apapun konsep yang diterapkan, ide tentang kesejahteran sosial yang tersaji dalam Pancasila dan UUD 1945 harus tetap menjadi pedoman bagi setiap langkah dan menjadi rujukan utama dalam setiap kebijakan karena, dengan begitu esensi pembangunan Indonesia akan selaras dengan keberadaan NKRI.
Belajar dari pengalaman negara lain dan menganalisa secara mendalam kondisi di Indonesia, ada sederet solusi konkret perbaikan yang perlu dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Adapun secara garis besar solusi konkret tersebut meliputi: (1) Menempatkan kesetaraan sebagai target kinerja pembangunan, (2) Menghentikan kebijakan yang justru memperbesar ketimpangan, (3) Memberikan perhatian khusus umtuk masyarakat wilayah Indonesia Timur, (4) Melakukan kebijakan pajak progresif, (5) Melakukan empowerment bagi mereka yang miskin, (6) Meningkatkan promosi investasi di wilayah Indonesia Timur, (7) Mmperbaiki kebijakan APBD dengan mengurangi belanja pegawai dan meningkatkan belanja modal (infrastruktur), (8) Mencari pinjaman luar negeri dan menggunakannya secara efisien, (9) Menyalurkan dana kredit bagi industri di kawasan Indonesia Timur, (10) Mengembangkan iinfrastruktur dalam klastter-klaster  seperti klaster industri, kakao, kelautan, dan pariwisata.